The River at Rain Forest

The River at Rain Forest
Tampilkan postingan dengan label Hewan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hewan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Mei 2010

Elang Jawa














Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Falconiformes
Famili : Accipitridae
Genus : Spizaetus
Spesies : S. bartelsi


Sebaran elang ini terbatas di Pulau Jawa, dari ujung barat (Taman Nasional Ujung Kulon) hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo. Namun demikian penyebarannya kini terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan. Sebagian besar ditemukan di separuh belahan selatan Pulau Jawa. Agaknya burung ini hidup berspesialisasi pada wilayah berlereng


Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) adalah burung nasional Indonesia karena kemiripannya dengan Garuda dan juga merupakan simbol jenis satwa langka di Indonesia, dan elang jawa dijadikan maskot hewan langka INDONESIA

Kucing


Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Karnivora
Famili : Felidae
Genus : Felis
Spesies : F. silvestris

Ras

Jumlah jenis kucing ras di seluruh dunia amat banyak. Setiap ras memiliki ciri khusus, tapi karena sering terjadinya kawin silang antar ras, banyak kucing yang hanya dikelompokkan dalam jenis bulu panjang dan bulu pendek, tergantung jenis rambut penutup tubuhnya.

Ada banyak macam ras kucing, beberapa diantaranya :

* Manx

Sebagian orang menyebutnya Rumpy. Ekornya pendek, Warna bulunya cokelat dan lavender. Sifatnya setia, ramah dan pintar.

* Maine Coon


Asalnya dari Maine, AS, keturunan Angora dan American Shorthair. Sifatnya lucu, pemalu tapi mau, dan mudah akrab. Bulunya tipis, lembut, dan warnanya beragam.

* British Shorthair


Dikembangkan di Inggris. Kucing ini kalem, lembut, hangat, dan pintar. Warna bulunya ada yang polos (putih,hitam,biru,merah dan krem), dwiwarna, hitam pekat, belang.

* Burmese (Burma)


Kucing ini dibiakkan oleh Dr. Thompson (AS) dari kucing ratu wong mau (Burma) dan siam. Warna cokelat musang, warna lainnya biru, champagne, lifa, merah, cokelat, dan biru kura-kura. sifatnya periang dan lucu.

* Chinchilla longhair


Inilah kucing persia paling anggun. Nenek moyangnya dari Inggris. Ras ini dibagi dalam dua macam, yaitu chinchilla warna cerah (sejati) dan yang agak gelap (perak gradasi).
[sunting] Macam warna

Kucing memiliki banyak warna dan macam pola. Ciri fisik ini tidak bergantung pada rasnya. Kucing rumahan dikelompokkan ke dalam jenis berikut berdasar penampakan fisiknya :

* bulu pendek
* bulu panjang
* oriental (bukan ras khusus, semua kucing yang bertubuh langsing, mata berbentuk almond, daun telinga lebar, dan rambut tubuh halus yang pendek)

Gen yang mengatur warna dan pola pada bulu kucing menentukan penampilan fisik dari kucing yang membedakan mereka ke dalam:

Telon atau Calico

putih dengan sedikit bercak warna hitam atau oranye (atau biru atau krem). Orang Jepang sering menyebut pola ini sebagai mi-ke. Karena gen warna bulu bertaut dengan kelamin, kucing Calico yang beraneka warna ini umumnya betina.

Tortoiseshell

hitam dengan warna oranye dan putih tersebar di seluruh tubuhnya. Kucing yang memiliki warna hitam, oranye terang, dan oranye gelap disebut sebagai Calimanco atau Clouded Tiger.
Tabby
bergaris dengan bermacam pola. Pola klasik pada kucing ini berbentuk bulatan-bulatan atau lingkaran. Tabby jenis mackerel mempunyai tiga garis yang tampak di samping tubuhnya, membuat kucing ini seperti ikan mackerel.
Maltese
nama lama dari kucing biru (abu-abu).

Bicolor (dua warna)
disebut juga Tuxedo cat atau Jellicle cat karena memiliki bulu berwarna hitam dengan sedikit warna putih pada bagian kaki, perut, dada, dan mungkin pula di bagian wajah.

Pada kulit kucing terdapat otot yang berfungsi untuk menolak telur bakteri. Otot kucing itu juga dapat menyesuaikan dengan sentuhan otot manusia. Permukaan lidah kucing tertutupi oleh berbagai benjolan kecil yang runcing, benjolan ini bengkok mengerucut seperti kikir atau gergaji. Bentuk ini sangat berguna untuk membersihkan kulit. Ketika kucing minum, tidak ada setetes pun cairan yang jatuh dari lidahnya.

Sedangkan lidah kucing sendiri merupakan alat pembersih yang paling canggih, permukaannya yang kasar bisa membuang bulu-bulu mati dan membersihkan bulu-bulu yang tersisa di badannya.

Pada kulit kucing terdapat otot yang berfungsi untuk menolak telur bakteri.
Otot kucing itu juga dapat menyesuaikan dengan sentuhan otot manusia.

Permukaan lidah kucing tertutupi oleh berbagai benjolan kecil yang runcing, benjolan ini bengkok mengerucut seperti kikir atau gergaji. Bentuk ini sangat berguna untuk membersihkan kulit. Ketika kucing minum, tidak ada setetes pun cairan yang jatuh dari lidahnya.

Sedangkan lidah kucing sendiri merupakan alat pembersih yang paling canggih, permukaannya yang kasar bisa membuang bulu-bulu mati dan membersihkan bulu-bulu yang tersisa di badannya.


Kebiasaan Rasulullah saw

Nabi Muhammad saw. SELALU menggendong mueeza (nama kucingnya) dan ditaruh dipahanya. Salah satu sifat Mueeza yang paling nabi suka:’Mueeza selalu mengeong ketika mendengar azan, seolah-olah ngeongnya mengikuti lantunan suara adzan’

Minggu, 02 Mei 2010

Comunication on Animals

Communication: Basic Principles

What is communication? Let me try to cut through the Gordian knot of philosophical discussion that surrounds this word in biology by defining it with a simple declarative sentence. Biological communication is the action on the part of one organism (or cell) that alters the probability pattern of behavior in another organism (or cell) in a fashion adaptive to either one or both of participants. By adaptive I mean that the signaling, or the response, or both, have been genetically programmed to some extent by natural selection. Communication is neither the signal by itself nor the response, it is instead the relation between the two. Even if one animal signal and the other respond, there still has been no communication unless the probability of response was altered from what it would have been in the absence of the signal. We know that in human beings communication can occur without an outward changes of behavior on the part of the recipient. Trivial or otherwise useless information can be received, mentally noted, and never used. But in the study of animal behavior no operational criterion has yet been developed other than the changes in patterns of overt behavior, and it would be a retreat into mysticism to try to add mental criteria. At the same time there exist certain probability-altering actions which common sense forbids us from labeling as communication. An attack by predator certainly alters the behavior patterns of the intended victim, but there is no communicating in any sense in which we would care to use the word. Communication must also be consequential to some reasonable degree. If one animal simply pauses to watch as another moves by unknowingly at a distance, the passing animal has altered the behavior pattern of the first. But the passing animal was not really communicating in any way that could alter its own behavior or affect its relationship to the observing animal in the future. Perception occurred in this case but not communication.
J.B.S Haldane once said that a general property of communication is the pronounced energetic efficiency of signaling: a small effort put into the signal typically elicits an energetically greater response. This cannot be a universal prescription, but it is faithful enough to out intuition to permit the explicit exclusion of certain kinds of interaction. Two animals goring each other during an escalated territorial bout can be said to have commenced fighting. But to lift a friend from the ground in a abrazo is true communication that surely violets Haldane’s principle.
To finish drawing the boundaries of our definitions, consider the following two unusual examples that involve microorganisme. When bioluminescent bacteria of the genus Photobacterium are inoculated into a fresh medium, they are unable to produce a sufficient quantity of luciferase to generate light. After a while the growing bacteria secrete an activator substance of low molecular weight that promotes the synthesis of luciferase in bacteria of the same strain (Eberhard, 1972). Is this chemical synergism a form of communication? It can be designated as such or not, according to convenience. Lower organism such as Photobacterium, the interactions of which tend to be strictly physiological rather than behavioral, often create a grey zone of phenomena in which communication cannot be sharply demarcated. The second example includes three links in the communicative chain rather than the usual two. Hoyt et.al (1971) discovered that the sex attractant used by females of the grass grub beetle Costelytra zaelindica is the manufactured by symbiotic bacteria. These organism live in the beetle’s collateral glands, which are located beneath the vagina and serve the primary function of secreting a protective coating for the eggs. In this example, who is communicating with whom? Of course the question is basically frivolous: the beetles have simply added an entire organism to their biosynthetic machinery. The serious point to be made is that communication is an adaptive relation between the organism that signals and the one that receives, regardless of the complexity and length of the communication channel.

Human versus Animal Communication

The great dividing line in the evolution of communication lies between man and all of the remaining ten million or so species of organism. The most instructive way to view the less advanced system is to compare them with human language. With our own unique verbal system as a standard of reference we can define the limits of animal communication in terms of the properties it rarely—or never—displays. Consider the way I address you now. Each word I use has been assigned a specific meaning by particular culture and transmitted to us down through generations by learning. What is truly unique is the very large number of additional objects and concepts. This potential is quite literally infinite. To take an example from mathematics, we can coin no sense word for any number we choose (as in the case of the “googol,” which designates a I followed by 100 zeros). Human beings utter their words sequentially in phrases and sentences that generate, according to complex rules also determined at least partly by the culture, a vastly larger array of messages than is provided by the mere summed meanings of the words themselves. With else messages it is possible to talk about the language itself, an achievement we are utilizing here. It is also possible to project an endless number of unreal images: fiction or lies, speculation or fraud, idealism or demagoguery , the definition depending on whether or not the communicator informs the listener of his intention to speak falsely.
Now contrast this with one of the most sophisticated of all animal communication system, the celebrated waggle dance of the honeybee (Apis mellifera), first decoded in 1945 by the German biologist Karl von Frish. When a foraging worker bee returns from the field after discovering a food source (or, in the course of swarming, a desirable new nest site) at some distance from the hive, she indicates the location of this target to her fellow workers by performing the waggle dance. This pattern of her movement is a figure eight repeated over and over again in the midst of crowed of sister workers. The most distinctive and informative element of the dance is the straight run (the middle of the figure eight), which is given a particular emphasis by a rapid lateral vibration of the body (the waggle) that is greatest at the tip of the abdomen and least marked at the head.
The complete back and forth shake of the body is performed 13 to 15 times per second. At the same the bee emits an audible buzzing sound by vibrating her wings. The straight run represents, quit simply, a miniaturized version of the light from the hives to the target. It points directly at the target if the bee is dancing outside the hive on a horizontal surface (The position of the sun with respect to the straight run provides the required orientation.) if the bee is on a appropriate angle away from the vertical, so that gravity temporarily replaces the sun as the orientation cue (see figure 8-1).
The straight run also provides information on the distance of the target from the hive, by means of the following additional parameter. The farther away the goal lies, the longer the straight run lasts. In the Carniolan race of the honeybee a straight run lasting a second indicates a target about 500 meters away. During the dance the follower bees extend their antennae and touch the dancer repeatedly. Within minutes some begin to leave the nest and fly to the target. Their searching is respectably accurate: the great majority come down to search close to the ground within 20 percent of the correct distance.
Superficially the waggle dance of the honeybee may seem to posses some of the more advanced properties of human language. Symbolism occurs in the form of the ritualized straight run, and the communicator can generate new messages at will by means of the symbolism. Furthermore, the target is “spoken of” abstractly: it is an object removed in time and space. Nevertheless, the waggle dance, like all other forms of nonhuman communication studied so far, is severely limited in comparison with verbal language of human beings. The straight run is after all just a reenactment of the flight the bees will take, complete with wing buzzing to represent the actual motor activity required. The separate messages are not devised arbitrarily. The rules they follow are genetically fixed and always designate, with a one-to-one correspondence, a certain direction and distance.
In the other words, the messages cannot be manipulated to provide new classes of information. Moreover, within this rigrid context the messages are far being infinitely divisible. Because of errors both in the dance and in the subsequent searches by followers, only about three bits of information are transmitted with respect to distance and four bits respect to direction. This is the equivalent of a human communication system in which distance would be gauged on a scale with eight divisions and direction would be defined in terms of a compass with 16 points. In reading single messages, northeast could be distinguished from east by northeast, or west from west by southwest, but no more refined indication of direction would be possible. A through account of the work of von Frisch and his student is given in his master work Tanzsprache und Orientierung der Bienen (1965) or its English translation by L.E Chadwick (1967). A briefer review, including critiques and more recent studies, is provided by Wilson (1971a). the design features of human language as opposed to communication In animal, particularly, honeybee, were first systematically analyzed by Hockett (1960) and Altmann (1962b) and have been more recently evaluated by the same authors (Altmann, 1967b,c Hockett and Altmann, 1968). The main points o their formal system are included in the looser, more flexible account that follows.

DISCRETE VERSUS GRADED SIGNAL
Animal signal can be partitioned roughly into two structure categories: discrete and graded, or, as Sebeok (1962) designated them, digital and analog. Discrete signals are those that can be presented in a simple off-or-on manner, signifying yes or no, present or absent, here or there, and similar dichotomies. They are most perfectly represented in the act of simple recognition, particularly during courtship. The steel-blue back and red belly of the ,ale three-spined stickleback (Gasterosteud aculeatus) in an example of a discrete signal. Another is the ritualized preening of the male Mandarin duck (Aix galericulata), who whips his head back in a striking movement to point at the bright orange speculum of his wing. Still other examples are provided by bioluminescent flashing sequences of fireflies (Figure 8-2). Disreteness of form also characterizes the communion signals by which members of a group identify one another and stay in contact, such as the duetting of birds and certain grunting calls of the ungulates. Discrete signal become discrete through the evolution of “typical intensity” (Morros, 1957). That is, the intensity and duration of a behavior becomes less variable, so that no matter hoe weak or strong the stimulus evoking it, the behavior always stays about the same.
In contrast, graded (analog) signal have evolved in a way that increase variability. As a rule the greater the motivation of the animal or action about to be performed, the more intense and prolonged the signal given. The straight run of honeybee waggle dance denotes rather precisely the distance from the hive to the target. The “liveliness” or “vivacity” of the dance and its overall duration increase with the quality of the food find and the favorableness of the weather outside the hive. Graded communication is also strikingly developed in aggressive displays among animals. In rhesus monkeys, for example, a low intensity aggressive display is a simple stare. The hard look a human being receives when he approaches a caged rhesus id not so much a sign of curiosity as it is a cautious displays or hostility. Rhesus monkeys in the wild frequently threaten one another not only with stares but also with additional displays on an ascending scale of intensity. To the human observe these displays are increasingly obvious in their meaning. The new component are added one by one or in combination: the mouth opens, the head bobs up and down, characteristic sounds are uttered, and the hands slap the ground. By the time the monkey combines all these components, and perhaps begins to make little forward lungs as well it is likely to carry through with an actual attack (Figure 8-3). Its opponent responds by retreating or by escalating its own displays. These hostile exchanges play a key role in maintaining dominance relationships in the rhesus society.
Squirrels reveal gradually rising hostility by tail movements that increase from a slow waving back and forth to violent twitching. Birds often indicate aggressive tendencies by ruffling their feathers or spreading their wings, movements which create the temporary illusion that they larger than they really are. Many kinds of fish achieve the same deception by spreading their fins or extending their gill covers. Lizards raise their crest, lower their dewlaps, or flatten the side of their bodies to give an impression of greater depth. In short, the more hostile the animal, the more likely it is to attack and the bigger it seem to become. Such exhibitions are often accompanied by graded changes in both color and vocalization. And even by the scaled release of the characteristic odors (See Figure 8-4).
Gradation in one form or another characterizes most of the major categories of communication in animal societies. Birds and mammals transmit a rich array a messages, some of which are qualitatively different in meaning, by gradually varying postures and sounds (Andrew, 1972). Ants, to cite a very different king of organism, release quantities of alarm substances in approximate relation to the degree to which they have been stimulated. Fire ants deposit trail scent in amounts that reflect both the hunger of the colony and the richness of the food find (Hangartner, 1969a, Wilson, 1971a). the amplification of a signal can be accomplished simply by the gradual increase of the power output movement, melanophore contraction, or whatever component contains the information. Or it can be achieved by adding wholly new components. A striking example of the second method is found in the mobbing calls of certain birds (See Figure 8-5).

THE PRINCIPLE OF ANTITHESIS
One of the most general principles of animal communication was first recognized by Charles Darwin in The Expression of the Emotions in Man and Animals (1872). Labeled by him the principle of Antithesis, it can be expressed in an oversimplified manner as the following duality: when an animal reverses its intentions, it reverses the signal. The signal antithesis are most sharply defined in aggressive interactions. An animal that approaches another in a conciliatory mood, or else has lost a fight and is trying to appease the victor, uses postures and movements that are the opposite of aggressive displays. Darwin’s own description of antithetic signaling in dogs (see Figure 8-6) is graphic and precise:
When a dog approaches a strange dog or man in savage or hostile frame of mind he walks upright and very stiffly; his head is slightly raised, or not much lowered, the tail is held erect and quite rigid; the hairs bristle. Especially along the neck and back, the pricked ears are directed forwards, and the eyes have a fixed stare. These actions, as will hereafter be explained, follow from the dog’s intention to attack his enemy, and are thus to large extent intelligible. As he prepares to spring with a savage growl on his enemy, the canine teeth are uncovered, and the ears are pressed close backwards on the head, but with these latter actions we are not here concerned. Let us now suppose that the dog suddenly discovers that the man he is approaching, is not stranger, but his master, and let it be observed how completely and instantaneously his whole bearing is reversed. Instead of walking upright, the body sinks downwards or even crouches and is thrown into flexuous movements; his tail. Instead of being stiff and upright, is lowered and wagged from side to side; his hair instantly becomes smooth; his ears are depressed and drawn backwards, but not closely to the head; and lips hang loosely. From the drawing back of the ears, the eyelids become elongated, and the eyes no longer appear round and staring.
When displaying aggressively, a gull stretches its head forward, the ritualized intention movement by which the bird indicates it is ready to pack at its enemy. But in order to appease an opponent, a gull turns its head 900 to the side. Two gulls attempting to conciliate reciprocally will stand side by side, or face each other with their bodies, but they will momentarily gazing in opposite direction (N.Tingbergen, 1960). Dominant male rhesus monkeys raise their tails and heads and display their testicles by lowering them, subordinates lower their tails and heads and raise their testicles. The dominant males also mount their subordinates in ritual pseudocopulation, the subordinates present themselves in a pseudofemale posture to be mounted. Although such example can be multiplied at length, not all displays opposite in meaning are also antithetical in appearance to the human observe. Even appeasement displays sometimes incorporate wholly new elements unrelated to hostile signaling. Hyenas, for example, rely heavily on penis displays to conciliate one another, even the females are equipped with pseudopenes which they use with convincing skill (Kruuk, 1972). Rodents and primates routinely utilize grooming, while some birds and mammals revert to begging and other juvenile postures (Wickler, 1972a).

SIGNAL SPECIFICITY
The communication systems of insect, of other invertebrates, and of the lower vertebrates (such as fishes and amphibians) are characteristically stereotyped. This means that each signal there is only one response or very few responses, that each response can be evoked by only a very limited number of signal, and that the signaling behavior and response are nearly constant throughout entire populations of the same species. An extreme example of this rule is seen in the phenomenon of chemical sex attraction in moths. The female silkworm moth draws males to her by emitting minute quantities of a complex alcohol from glands at the tip of her abdomen. The secretion is called bombykol (from the name of the moth, Bombyx mori), and its chemical structure is trans -10 cis-12 hexadecadienol.
Bombykol is a remarkably powerful biological agent. According to estimates made by Dietrich Scheneider and his coworkers at the Max Planck Institute for Comparative Physiology at Seewiesen in Germany, the male silkworm moth start searching forfemales when they are immersed in as few as 14,000 molecules of bombykol per cubic centimeter of air. The male catches the molecules on some 10,000 distinctive sensory hairs on each of his two feathery antennae. Each hair is innervated nerve and ultimately through connecting nerve cells to centers in the brain. The extraordinary fact that emerged from the study by the Seewiesen group is that only a single molecules of bombykol is required to activate a receptor cell. Furthermore, the cell will respond to virtually no stimulus other than molecules of bombykol. When about 200 cell in each antenna are activated per second, the male moth starts its motor response (Schnider, 1969). Tightly bound by this extreme signal specificity, the male performs as little more than a sexual guided missile, programmed to home on an increasing gradient of bombykol centered on the tip of the female’s abdomen—the principal goal of the male’s adult life.
Such highly stereotyped communication system are particularly important in evolutionary theory because of the possible role, they play in the origin of new species. Conceivably one small change in the sex-attractant molecule induced by a genetic mutation, together with a corresponding change in the antennal receptor cell, could result in the creation or a population of individuals that would be reproductively isolated from the parental stock. Persuasive evidence for the feasibility of such as mutational change has been adduced by Roelofs and Cemeau (1969). They found two closely related species of moth (members of the genus Bryotopha in the family Gelechidae) whose female’s sex attractants differ by only the configuration of a single carbon atom adjacent to a double bond. In other words, the attractants are simply different geo metric isomer. Field tests showed not only that a Bryotopha male respond solely to the isomer of his own species but also that his response is inhibited if some of the other species’ isomer is also present. An even more extreme case—the ultimate possible, in fact—has been reported by Minks et al (1973). The two tortricid moth species Adoxophyes orana and Clepsis spectrana utilize the same twi isomers, cis-9 and cis-11 tetradecenlyacetate, as their female sex attractant. However, they manufactured and release them in different blends are sufficient to affect the male responses and hence isolate the species from each other.
For each such case extreme specificity there exist others in which signals are shared by more than one kind of animal. Among moths of the families Saturniidae and Tortricidae, specificity of the sex pheromone often exist at the species group level, meaning that the males respond to the pheromones emitted by females of both their own and closely related species (Priesner, 1968; Sanders, 1971). Under natural conditions the species depend on other kinds of prezygotic isolating mechanism to avoid hybridization, particularly differences in preferred habitats, seasons of emergence, and times of peak matting activity.

Other kinds of signals are known which are clearly not designed to impart specificity. The alarm substances of ants, termites, and social bees consist of an astonishing diversity of terpenes, hydrocarbons, and esters, most of which have low molecular weights. In spite of the fact that they differ in composition and proportionality from one species to another, they are generally active across broad taxonomic groups. When an agitated honeybee worker discharges isoamylacetate or 2 – heptanone, it alarms not only her nestmates but also any ant or termate that happens to be in the near vicinity. This phenomenon is precisely what the evolutionist would expect. Privacy is not a requirement of alarm communication, and when the communication is coupled with interspecific aggressive behavior, signals should be expected to affect enemies as well as nestmates. The same differences in breadth of activity are found among the communication system of bird and are subject to the same explanation. Territorial and courtship displays, including advertising songs, are characteristically elaborate and species-distinct. Their exceptional complexity and repetitive patterning are in fact the reasons why human beings consider them beautiful. But esthetics are not the primary consideration of birds. The displays are sufficient, in the great majority of cases, to isolate the members of each species of bird from all other species breeding in the same area. Where “mistake” occur, resulting in interspecific territorial combat or hybrids, they are usually limited to closely related species and most often to those that have come close contact only in the most recent geologic time. In contrast, the mobbing calls of small birds, which assemble other birds for cooperation in driving a predator from the neighborhood, are very similar from one species to another and are understood by all. The gulls (family laridae) provide an excellent capsular illustration of the specificity rule. The sequence of courtship displays of each sympatric species is distinctive in one species the long call is followed by mewing, in another the choking displays is followed by the long call, and so forth. The precise forms of the separate components also vary. During the lengthy exchanges leading to pair bonding, these signals make it unlikely that any gull will choose a partner of the wrong species. In contrast, the displays of aggression and appeasement are simple in execution and uniform across species. In a closely parallel manner, the intergroup spacing and within-group rallying call of Cercopithecus monkeys are species-specific, but their alarm call are relatively constant and can be understood from one species to the next (Marler, 1973).

Even though much convergence of signals exists in aggressive interactions, there is no universal code to which all species of a group subscribe. In the mammals, for example, we find appeasement behavior following much the same form in species after species : the animal tends to crouch, often rolling over to expose its flank or belly. Konrad Lorenz suggested that in some mammals such as the dog the exposure of these most vulnerable part cancel the aggressive impulse of the opponent. However, the belly-up posture does not invariably mean submission. Among shrews it signifies hostility and dominance-with good reason, since the shrew’s best fighting position is on its back (Ewer, 1968). Two points should be stressed : first, that evolution is entirely opportunistic and not bounded by any goal-directed rules, however intuitively appealing they may seem; and second, that display behavior are among the most evolutionarily labile of all phenotypic traits.

Jumat, 30 April 2010

Komunikasi Pada Hewan

KOMUNIKASI : PRINSIP DASAR

Komunikasi secara biologis dapat diartikan sebagai suatu aksi atau tindakan dari suatu organisme (sel) yang dapat merubah suatu pola tingkah laku pada organisme (sel) lain dengan berbagai cara dan bentuk penyesuaian diri yang dilakukan oleh satu atau kedua organisme yang bersangkutan. Bentuk penyesuaian diri yang dilakukan dapat berupa pemberian sinyal, pemberian respon (tanggapan) ataupun keduanya, dimana hal tersebut telah terprogram secara genetik melalui tahapan-tahapan dalam seleksi alam.
Pada dasarnya komunikasi adalah suatu bentuk interaksi atau hubungan antara satu organisme dengan organisme yang lain. Dapat disebut tidak terjadi komunikasi apabila suatu aksi hanya berasal dari satu organisme saja tanpa adanya tanggapan atau respon dari organisme yang lain. Sebagai contoh, walaupun terdapat 2 organisme pada suatu area tertentu yang terdiri dari 1 organisme pemberi sinyal dan 1 organisme perespon, namun jika sinyal yang diberikan oleh organisme pemberi sinyal tidak sampai kepada organisme perespon dalam artian organisme tersebut tidak mengetahui adanya sinyal yang diberikan, maka dalam hal tersebut dapat dikatakan tidak terjadi komunikasi.
Pada saat yang sama terdapat beberapa perilaku dan tindakan pada suatu mahluk hidup yang tidak dapat disebut sebagai komunikasi. Contohnya suatu serangan dari predator tentu akan merubah perilaku dari mangsanya, akan tetapi disana belum tentu ada atau bahkan sama sekali tidak terjadi komunikasi antara keduanya. Contoh lainnya seperti mahluk hidup tertentu yang berhenti ditempat untuk mengamati mahluk hidup lain yang lewat dan tidak dikenalnya dalam jarak jauh, dimana mahluk hidup yang lewat tersebut mengubah tingkah laku mahluk hidup yang berhenti ditempat, namun dalam hal ini mahluk hidup yang mendapatkan sinyal hanya yang berhenti saja sedangkan yang diamati olehnya tidak merasakan adanya sinyal apapun, sehingga dalam hal tersebut dapat juga dikatakan tidak terjadi komunikasi.
Menurut J.B.S Haldane dalam buku ini menyatakan bahwa alasan terjadinya komunikasi pada mahluk hidup adalah beratnya efisiensi energi penuh yang harus dikeluarkan untuk memberikan sinyal dan mendapatkan respon. Sehingga dengan terjadinya komunikasi antara mahluk hidup, energi diperlukan untuk dijadikan sebagai sinyal menjadi lebih kecil namun dengan kemungkinan respon yang akan didapatkannya menjadi lebih besar. Pendapat ini tentu saja tidak dapat secara keseluruhan menggambarkan bentuk hubungan diantara seluruh mahluk hidup. Sebagai contoh terdapat beberapa mahluk hidup yang menggeram atau menyalak satu sama lain pada saat perluasan teritorialnya, hewan-hewan tersebut tentu dapat dikatakan menghentikan komunikasi dan lebih condong untuk memulai pertarungan untuk perebutan teritori tersebut. Contoh yang lain adalah suatu mahluk hidup berusaha mengangkat mahluk hidup lain yang jatuh ke tanah, dalam hal ini mahluk hidup tersebut jelas menggunakan energi yang besar untuk mendapatkan respon, namun mungkin inilah yang disebut dengan komunikasi yang sebenarnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa kedua contoh tersebut bertentangan dengan prinsip dari J.B.S Haldane mengenai alasan dari komunikasi.

Perbandingan Komunikasi Pada Manusia dan Hewan
Proses evolusi pada mahluk hidup di dunia menghasilkan garis pemisah yang sangat besar yang menimbulkan banyaknya perbedaan bentuk komunikasi yang unik diantara manusia dan berjuta-juta spesies mahluk hidup lainnya. Mungkin hal yang dapat dilakukan untuk mengetahui kelebihan dari masing-masing sistem komunikasi tersebut adalah membandingkannya dengan jenis komunikasi pada manusia seperti yang telah kita kenal sebagai bahasa manusia.
Bahasa pada manusia merupakan sistem verbal yang unik yang terdiri atas kata-kata atau frase yang tersusun menjadi suatu bentuk informasi. Bahasa pada manusia lahir atas pembelajaran nenek moyang terdahulu dan diturunkan antar generasi. Suatu kata atau bahasa pada manusia dapat menyatakan kebenaran, kebohongan, spekulasi, kekasaran, idealism, dll bergantung pada cara orang tersebut menyampaikan atau memberikan informasi serta isi dari informasi tersebut. Sehingga orang yang meresponnya dapat saja menganggap bahwa informasi yang diberikan oleh orang tersebut salah atau tidak benar.
Kini bandingkanlah dengan salah satu hewan yang memiliki sistem komunikasi yang paling rumit dari semua binatang, yakni perayaan “ waggle dance” pada lebah madu (Apis mellifera). “Waggle dance ” merupakan suatu gerakan lebah madu dengan menggetar-getarkan tubuhnya sehingga terlihat seperti suatu tarian. Saat lebah pekerja pencari pakan menemukan sumber makanan atau sarang yang baru pada jarak tertentu dari sarangnya, maka lebah tersebut (betina) menyampaikan lokasi dari target yang didapatkannya kepada lebah pekerja yang lain dengan melakukan “waggle dance”.
Waggle dance atau tarian tersebut dilakukan secara terus menerus atau berulang-ulang di tengah kerumunan dari lebah pekerja betina. Suatu element penting dalam tarian tersebut yang berisikan informasi adalah lari atau berputar ditempat, dengan gerakan menggetarkan tubuh kedepan dan kebelakang sekitar 13-15 kali per detik, pada saat yang sama lebah tersebut mengeluarkan suatu bunyi atau suara tertentu dengan menggetarkan sayapnya.
Jika lebah tersebut berada pada daerah terang dan pada permukaan yang horizontal, maka tarian disana secara langsung menunjukan target lokasinya. Namun jika target lokasinya pada daerah gelap atau didalam sarang dan permukaannya vertikal, maka gerakan tarian dari lebah tersebut akan membentuk sudut menjauhi arah vertikal sekitar 20ยบ, sehingga arah gravitasi secara sementara menggantikan cahaya matahari sebagai petunjuk arah dari lokasi.
Pada lebah ordo Carnolian, straight run yang bertahan selama 1 detik dapat mengidikasikan target sekitar 500 km jauhnya, dan straight run yang bertahan selama 2 detik mengidikasikan target sekitar 2 km. Selama tarian tersebut lebah yang mengikutinya akan memanjangkan antenanya dan menyentuh lebah yang menari waggle secara berulang-ulang. Lalu dalam hitungan menit terdapat beberapa lebah yang meninggalkan sarangnya dan mulai terbang menuju target lokasi yang diberikan.
Waggle dance pada hewan kelihatannya memilki suatu kelebihan daripada bahasa manusia, hal ini menyangkut informasi dalam bentuk arah dan jarak tertentu. Dimana bentuk kesalahan atau penyimpangan informasi pada lebah tersebut nampaknya lebih rendah dengan apa yang dapat terjadi pada manusia. Apabila ditunjukan dengan angka maka derajat kesalahan pada lebah untuk jarak adalah sekitar 3 poin dan untuk arah adalah 4 poin, sedangkan pada manusia derajat penyimpangannya untuk jarak sekitar 8 derajat dan untuk arah sekitar 16 derajat.

Sinyal Terputus-putus (Discrete) dan Sinyal Bertingkat (Graded)
Sinyal terputus-putus (discrete) merupakan suatu jenis sinyal yang sederhana dan mudah dikenali karena hanya mengindikasikan ada atau tidak ada, iya atau tidak, disini atau disana, serta sinonim kata yang lainnya. Bentuk discrete mengkarakterisasi sinyal komunikasi oleh anggota dari grup yang saling mengenali satu sama lain dan tetap saling mengontak. Contohnya pada suara nyanyian burung, suara panggilan pada primata, suara dengkuran tertentu pada beberapa hewan unggulata, pada kunang-kunang jantan yang terbang untuk menarik betina yang terbang rendah di atas permukaan tanah. Sinyal terputus-putus berkembang menjadi terputus melalui proses evolusi. Sinyal disrete mempunyai intensitas dan durasi dari tingkah laku yang kurang bervariasi, sehingga bagaimanapun kuat atau lemahnya perlakuan yang diberikan untuk memprovokasi hewan tersebut, tingkah laku atau balasan yang diberikan biasanya selalu sama.
Sinyal bertingkat (graded) merupakan sinyal yang berkembang secara tertentu dan mengalami peningkatan variasi yang didukung oleh besarnya aggresivitas dan motivasi dari suatu hewan akan tindakan yang akan dilakukan. Dimana pemberian sinyal dari sinyal bertingkat ini lebih besar dan panjang. Contohnya pada lebah madu, pemberian sinyal dalam bentuk waggle dance merupakan suatu cara yang lebih kompleks dan rumit dengan terjadinya peningkatan intensitas dan durasi dari mekanisme keseluruhan yang bergantung kepada kualitas dari sumber makanan yang ditemukan serta bergantung keadaan cuaca diluar sarangnya. Monyet yang semula tenang karena tidak diganggu biasanya ditunjukan dengan tatapan yang sederhana, kemudian berubah menjadi agak buas saat manusia mencoba mengurungnya dalam kandang, lalu monyet tersebut dapat menjadi lebih buas lagi secara bertingkat sesuai dengan perlakuan yang diberikan, biasanya ditunjukan dengan tingkah lakunya dalam suatu kombinasi gerakan seperti mulut terbuka, kepala digerak-gerakan keatas kebawah, mengeluarkan suara seperti menjerit-jerit, dan tangan menepuk-nepuk tanah.
Sinyal Bertingkat lainnya ditunjukan oleh gurita yang semula bergerak perlahan di dalam air laut, namun lambat laut gerakannya makin cepat keatas permukaan air, hingga akhirnya ia melakukan tindakan yang agresif dengan sikap untuk melilit mangsanya. Beberapa burungpun kadang-kadang menunjukan kecenderungan untuk bertindak agresif seperti mulai menajamkan bulu-bulunya dan menggerak-gerakan ekornya, dimana gerakan tersebut dilakukan untuk menciptakan ilusi bahwa burung tersebut tampak lebih besar.

Prinsip Dari Antithesis
Yang menjadi prinsip dasar dari antithesis adalah “ketika suatu hewan membalikan perhatiannya, maka ia akan membalikan signalnya”. Maksudnya adalah hewan tersebut secara spontan melakukan aksi kebalikan dari aksi semula yang dilakukan berkaitan dengan suatu keadaan atau kondisi yang mempengaruhinya. Dalam hal ini dapat dikatakan dari tindakan semula tenang menjadi agresif ataupun sebaliknya. Contohnya hewan yang kalah dalam pertarungan akan menunjukan sikap memelas dan menunduk pada hewan yang lebih menang, dimana hal tersebut merupakan sikap kebalikan dari tindakan agresif sebelumnya sebagai harapan agar hewan tersebut dapat tetap bertahan hidup.
Anjing biasanya menunjukan sikap agresif dengan mata melotot, telinga kedepan, ekor berdiri,dan tindakan agresif lainnya ketika bertemu dengan orang yang tidak dikenal. Akan tetapi ketika anjing itu mengetahui bahwa orang yang tadi adalah majikannya maka anjing itu menjadi lebih tenang dan menghilangkan sikap keagresifan semula.
Rhodensia dan primata biasanya menunjukan sikap keagresifan yang cukup tinggi, sementara beberapa burung,mamalia, serta pada hewan berpostur juvenile akan menunjukan sikap menunduk dan memelas terhadap hewan yang lebih superior.

Spesifitas sinyal
Sistem komunikasi dari serangga, invertebrate dan vertebrata tingkat rendah (seperti ikan dan katak) merupakan jenis dengan karakter stereotype. Karakteristik stereotytpe ini mempunyai kemampuan bahwa setiap sinyal yang diberikan hanya terdapat satu atau sangat sedikit respon yang ditanggapi, dan tiap respon tersebut hanya dapat ditimbulkan oleh jumlah sinyal yang sangat terbatas. Dimana perilaku signal dan respon yang ada mempunyai kekonstanan dan kesamaan yang cukup dekat
pada seluruh populasi dari spesies yang sama. Contohnya cacing silk betina menarik jantannya dengan mengeluarkan cairan kompleks dari dalam tubuhnya dalam bentuk sekresi yang disebut bombykol ( berasal dari Bombyx mori), dimana hanya hewan jantan dari spesies cacing tersebut saja yang akan tertarik oleh adanya sinyal sementara hewan yang lainnya tidak.
Pada beberapa kasus misalnya terjadi mutasi pada organisme tersebut akan mengkibatkan terjadinya perubahan komponen atau sekret yang dihasilkan, sehingga organisme spesies yang sejenisnya tidak akan mengenali spesies tersebut yang akan menyebabkan ia terisolasi secara reproduksi. Dan apabila hal tersebut terus berkelanjutan mungkin dapat terjadi proses evolusi dan timbulnya spesies baru.
Adapun beberapa organisme yang tidak memiliki kespesifikan sinyal seperti rayap, semut dan lebah social. Organisme-organisme tersebut tidak bergantung pada komponen-komponen tertentu yang spesifik. Akan tetapi jika tidak terdapat kespesifikan akan komponen yang dibutuhkan akan menyebabkan terjadinya ketertarikan dari organisme-organisme tersebut terhadap komponen yang sama. Sehingga akan timbul kompetisi interspesies diantara organisme tersebut untuk mendapatkan kebutuhan hidupnya.


Sinyal Ekonomi
Apabila dibandingkan dengan standar manusia, maka jumlah dari signal yang terdapat pada tiap-tiap spesies dari hewan sepertinya agak terbatas. Kebanyakan bentuk komunikasi dari hewan disampaikan melalui media display atau penampakan visualisasi, yang merupakan prilaku yang telah terspesialisasikan melalui proses evolusi untuk menyampaikan informasi tersebut. Dengan kata lain display tersebut merupakan signal yang telah berubah dalam beragai cara sehingga menghasilkan suatu cara yang unik untuk memberikan signal tersebut. Contohnya seperti suara tanda peringatan burung penyanyi akan keberadaan elang, rusa rekor putih memberikan tanda peringatan akan adanya predator dengan mengayun-ayunkan ekornya, serta gerakan-gerakan yang dilakukan oleh hewan yang lain sebagai bagian dari aktifitas hariannnya. Dari hasil penelitian mengenai jenis signal total yang dilakukan oleh individu suatu hewan didapatkan data ikan mempunyai sedikitnya 10 jenis signal, monyet rhesus ( Macaca mulatta) 37, serangga 10 -20 signal, dll.

Peningkatan Informasi
Walaupun jumlah dari display yang terkatalaogkan oleh ahli-ahli ethologist adalah sekitar 50 untuk tiap spesies, mungkin pada kenyataannya terdapat jumlah yang lebih banyak lagi. Untuk lebih memahami tentang komunikasi pada hewan mungkin bergantung pada perhitungan sistematik seperti dengan pengaturan waktu jeda atau waktu yang hilang dapat dilakukan dengan menggunakan rasio Q/K, dengan keterangan :
Q = Jumlah emisi dari sinyal yang dikeluarkan
K = Batas konsentrasi yang diterima oleh hewan untuk respon
Dimana rasio Q/K dapat dianggap konstan. Sehingga apabila Q dikurangi maka batas konsentrasi untuk respon (K) akan naik, dengan begitu durasi atau waktu yang dibutuhkan untuk penyampaian sinyal akan berkurang. Sedangkan apabila jumlah emisi sinyal (Q) dinaikan maka batas konsentrasi respon (K) akan turun, sehingga akan terjadi peningkatan jarak sinyal yang akan diberikan untuk mengharapkan terjadinya banyak respon.
Metakommunikasi
Metakomunikasi merupakan bentuk tindakan lain sebagai bagian dari komunikasi, dimana metakomunikasi ini merupakan salah satu bentuk khas yang dihasilkan dari berbagai sinyal gabungan (komposit). Suatu hewan terpacu untuk melakukan metakomunikasi setelah dipengaruhi oleh jenis sinyal yang kategorinya berbeda daripada biasanya yang dikirim secara berulang-ulang ataupun terjadi dengan cepat. Altmann (1962) yang pertama kali menerapkan konsep ini kepada mahluk hidup non-manusia seperti primata, mengenali suatu keadaan dimana metakomunikasi dapat terjadi. Keadaan yang pertama adalah sinyal status. Contohnya adalah status sinyal pada primata, dimana jantan dominan (alpha male) mempunyai sikap kepala tegap, ekor berdiri, serta testikel mengarah ke bawah, sedangkan pada jantan tingkat bawah mempunyai sikap kepala dan ekor yang menunduk ke bawah serta testikel yang menghadap keatas. Status signal yang sejenis dapat ditemukan pada macaca dan babons. Hipotesis dari altmann menyatakan bahwa hewan melakukan komunikasi mengenai kedudukan status mereka dan kemungkinan dia akan menyerang atau mundur kalau bertemu.
Bentuk kedua dari metakomunikasi primate adalah ajakan bermain. Cara bermain dari monyet hampir sama dengan kebanyakan mamalia lainnya, mereka saling mencurahkan kasih sayang, saling mengejar dan mengejek. Cara mengajaknya terdiri dari melompat dan saling menatap dengan teman bermain melalui kedua atau samping dari lengannya dengan menaikan dan menurunkan kepala mereka. Pada permainan berikutnya, mereka bergulat dan saling menggigit satu dan lainnya dengan semangat. Terkadang mereka dapat terluka dengan mudah tetapi itu jarang mereka lakukan.

Komunikasi massa
Kebanyakan dari system komunikasi pada kebanyakan serangga sosial mengandung komponen dari infomasi yang tidak dapat disampaikan dari satu individu ke individu ke individu yang lain tetapi hanya disampaikan oleh dari satu kelompok ke kelompok lain. Seperti pada sejumlah semut merah pekerja yang meninggalkan sarang dipengaruhi oleh banyaknya jejak dari zat kimia (pheromone) yang oleh pekerja lain yang sudah lebih dahulu ke lapangan ( sumber makanan).
Pada tes yang dilakukan dengan memperkaya kandungan pheromone menunjukan bahwa jumlah dari individu yang tertarik keluar sarangnya menunjukan fungsi linear antara jumlah dari zat kimia yang ada dengan koloni yang keluar secara keseluruhan. Pada kondisi alami jumlah pekerja yang keluar mencari makan tergantung dari sumber makanannya. Apabila jumlah makanan yang didapatkan sedikit maka jumlah pekerja yang dikeluarkan juga sedikit. Hal ini merupakan contoh bentuk komunikasi massa berdasarkan kuantitas .
Yang kedua adalah bentuk komunikasi massa berdasarkan kualitas, atau dapat juga diartikan dengan respon “electorate” (prioritas). Contohnya apabila semut merah pekerja menemukan sumber makanan yang mereka anggap bermutu baik maka mereka akan meninggalkan jejak sedangkan bila makanan tersebut bermutu kurang maka mereka tidak meninggalkan jejak. Dalam hal ini semut merah pekerja tersebut untuk meninggalkan jejak berdasarkan dari kualitas sumber makanan yang ditemukan. Apabila sumber makanan yang didapatkan sangat menarik maka presentasi respon positif dari semut tersebut makin tinggi, seperti makin tingginya keinginan tiap individu untuk meninggalkan jejak, makin tingginya jumlah pheromone yang di tinggalkan untuk koloni mereka, hal itu akan meningkatkan jumlah semut baru yang datang ke area tersebut.


Daftar Pustaka
Wilson, E. O. 1975. Sociobiology – The New Synthesis. USA: Harvard University Press.

Rabu, 23 Desember 2009

Sistem Pencernaan

Sistem Pencernaan
Sistem ini terdiri atas organ-organ tubuh yang berperan dalam proses pencernaan makanan. Sistem pencernaan meliputi organ yang berhubungan dengan pengambilan makanan, penyediaan bahan kimia dan pengeluaran ampas makanan yang tidak dicerna. Bahan makanan mengalami oksidasi di dalam sel, sehingga menghasilkan panas yang dibebaskan dan bentuk lain dari energy, serta dihasilkan karbondioksida sebagai penghasil metabolism. Pada mamalia, system pencernaannya tersusun oleh kelenjar ludah, usus kepala, usus badan, hati dan pancreas.
Kelenjar ludah contoh pada tikus terdapat tigapasang kelenjar ludah, yaitu
1. Kelenjar Parotid yang berada dibelakang telinga dan memanjang secara ventrolateral dari leher ke bahu.
2. Kelenjar Mandibular yang berada secara ventral dari kelenjar parotid yang terbesar. Oleh karena itu, kelenjar ini dapat diidentifikasi secara histologist
3. Kelenjar Sublingual warnanya lebih pucat dibandingkan kelenjar lainnya
Usus kepala, adalah bagian saluran pencernaan yang terletak dibagian kepala, terbagi menjadi rongga mulut dan faring atau usus visceral. Didalam rongga mulut terdapat gigi dan lidah. Mulut dan rongga mulut merupakan bagian depan dari saluran pencernaan yan berfungsi untuk mencerna makanan dengan bantuan lender yang brasal dari kelenjar ludah.
Usus badan merupakan saluran yang luas dan terbagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Usus depan, memanjang dari faring sampai pylorus. Kerongkongan dan lambung adalah bagian dari usus depan. Lambung terbentuk seperti huruf U, terdapat bagian yang berupa lengkungan yang disebut kurvatura minor dan kurvatura mayor.
2. Usus tengah, biasanya panjang, dimulai dari belakang pylorus sampai permulaan usu buntu. Bagian dari usus tengah adalah duodenum
3. Usus akhir, biasanya pendek. Bagian belakang usus ini bermuara keluar tubuh melalui anus.
Hati merupakan organ terbesar dengan fungsi yang kompleks. Pembentukan hati sangat cepat, bagian depan menjadi hati sedangkan bagian belakang menjadi kantong empedu. Namun demikian pad tikus tidak ditemukan empedu. Sedangkan pancreas berasal dari penebalan ectoderm dan penonjolan dari lumen usus tengah terdiri dari dua bagian yaitu bagian endokrin dan bagian eksokrin.

Senin, 07 Desember 2009

Fenomena Beruang Kutub

Fenomena beruang kutub, warna bulunya terlihat putih namun pada kenyataannya bulunya itu tidak berwarna alias transparan, dimana memiliki fungsi untuk mengumpulan energi panas sinar matahari yang menerpa tubuhnya, sehingga mekipun suhu begitu dingin nya beruang kutub masih bisa merasakan kepanasan, karena kesensitifan bulunya menyerap sinar matahari..dan ternyata kulitnya itu berwarna hitam...dan ketika dikemas bulu yang transparan jadi lah beruang kutub yang putih...

Kamis, 03 Desember 2009

Fenomena Kecoa

Sebuah fenomena yang cukup menarik, dari salah satu jenis insecta biasa dipanggil Kecoa atau bahasa sundanya cucunguk kalau kerennya sih Periplaneta americana, ketika diamati secara biasa biasa saja kita sering bingung, nih kecoa sebetulnya makan apa ya..??

Tapi jenis kecoa termasuk hewan yang merupakan serangga pemakan bangkai, tapi kepada hewan/ manusia yang masih hidup kecoa ini tidak memangsa, hanya kesan geli atau jijik saja ketika berada didekatnya..

Ada sebuah fenomena yang unik, kemampuan luar biasa dari kecoa ini adalah meskipun kepalanya dipotong, atau terpenggal, tapi kecoa dapat bertahan hidup kurang lebih selama 9 hari...

Dan setelah 9 hari ini baru kecoa akan mati tapi bukan karena pendarahan, ataupun luka 'berat' di 'leher' tapi karena tidak bisa makan dan akhirnya kelaparan...

Minggu, 29 November 2009

Anatomi dan Taksonomi (studi kasus pada katak).

Cabang biologi yang mempelajari bentuk, susunan dan uraian sistem organ dinamakan anatomi, sedangkan yang mempelajari tata nama individu atau kelompok organisma disebut taksonomi atau sistematika. Anatomi dipelajari dengan cara pembedahan atau diseksi dan taksonomi dipelajari dengan cara pencandraan atau determinasi dan identifikasi. hubungan kedua cabang biologi ini sangat erat, karena anatomi dapat menjadi alat taksonomi dalam menempatkan suatu spesies pada kelompok yang sesuai dengan ciri kesamaan struktur. sebaliknya taksonomi dapat membantu anatomi dalam menemukan struktur khusus yang dimiliki suatu organisma. Katak misalnya, secara anatomis memiliki jantung tiga ruang sempurna berbeda dengan jantung salamander, tapi kedua hewan ini memiliki insang untuk hidup di air pada waktu muda dan paru-paru untuk hidup di darat pada waktu dewasa, sehingga katak dan salamander dikelompokan dalam kelas amphibi. sebaliknya berbagai variasi misalnya yang terdapat pada jari kaki , bermacam katak mengarah pada penemuan suatu struktur khusus seperti pad atau bantalan kaki pada katak pohon (Hyla), web atau selaput renang pada katak sawah (Rana), claw atau kuku pada katak budug (Bufo), serta web dan claw pada katak platana (Xenopus)